Gravity
….. Something always brings me back to you. It never takes to long ….
Lagu ini, seperti menyentilku. Selalu ada saja yang mampu membuatku kembali menujumu. Sebenci apapun aku. Semenyebalkan apapun kamu. Setelah 5 tahun ini kita terpisah jarak terjauh. -keacuhan-. Terhempas oleh luka dan kekecewaan masing-masing dan kemudian kita besarkan dengan kebencian. Begitu terus, bertahun-tahun, tanpa konfirmasi, tanpa kabar atau sebatas “hai, apa kabar?”.
Dan sekarang, kita bertemu lagi, tanpa kesengajaan. Ah sayangnya, senyummu saja mampu meruntuhkan kebencianku. Dan aku hanya menemukan setumpuk besar kerinduan. Iya, ini aku akui hanya untuk diriku sendiri. Enam puluh menit lalu, di kursi biru, tepat di pojok kanan coffee shop yang tidak begitu ramai pengunjung ini, aku dibuat hampir pingsan oleh sapaanmu tepat di depan mataku. Rangga!
Dengan sikap yang agak kikuk bercampur kaget, aku balas menyapamu. Di meja kecil ini, kita seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu. Menukar kabar, berbagi cerita dan bercanda seru. Seakan lupa, dulu kita pernah begitu saling membenci setelah mencintai dengan jenuhnya.
“Jadi, kapan nikah? ” serta merta dia bertanya. Mengubah suasana hangat yang menyelimuti. Menikah, artinya akan menghabiskan sisa hidup hanya dengan satu pasangan. Sedang pasangan? Ah, dimana pasanganku. Batinku sambil memikirkan jawaban sediplomatis mungkin.
“Kenapa ga dijawab Mey? Malah senyum-senyum!” Aku membaca nada khawatir dari kalimatnya. Ok, aku semakin tertawa.
“belum tau. Semoga bisa secepatnya.” Jawabku datar.
“Dengan siapa?”
“Dengon jodohku dong!” Aku balas dengan gurauan yang paling masuk akal. “Oooh” balasnya semakin datar.
Aku senang, melihat ekspresinya ini. Oh, bukan senang, lebih kepada aku rindu.
“Dan kamu kapan?” Giliran aku yang penasaran.
“Ya kalo kamu udah siap!” Jwabnya santai tapi dengan nada tegas dan tatapan meyakinkan.
Ok, gelasku berhenti di tengah. Di tengah-tengah antara meja dan mulutku. ketika aku akan menyusup hot chocolate. Semua gerakan motorikku terhenti. Atau mungkin segala sistem sarafku ikutan terhenti. Sepersekian detik jantungku menghasilkan suara “deg” yang cukup keras, kemudian diikuti dengan desiran darah yang bergerak lebih cepat dari biasanya. Hasilnya, jantungku bekerja semakin cepat. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantung ku sendiri “degdegdegdegdeg” kira-kira seperti itu. Mataku? Mungkin tidak berkedip sepersekian menit. Atau mungkin sedang melotot? Atau menyipit atau menangis atau apalah, sungguh aku tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresiku saat ini. Aku pasrah saja. Pasrah pada kebencian dan kekecewaanku bertahun-tahun ini, pasrah pada kerinduanku yang mengikuti teori gunung es, pasrah pada kebahagiaan yang sungguh tidak bisa aku tutupi dan pasrah pada perasaanku sendiri. Aku masih mencintainya. Dia tersenyum sambil melihat tingkahku yang masih pada posisi “shock”. Aku, harus gimana? Batinku.
Kriiiiiing kriiing kriiing ………..
“Huaaaap” aku bangun terkaget dengan perasaan senang yang luar biasa. Jam 8 am dan aku menyapu pandangan ke sekeliling. Kamar 4x6 m yang super duper berantakan, suara weker dan aku masih di tempat tidur dengan headset yang menempel di telinga melantunkan lagu “gravity”. Tidak di coffee shop dan tidak bersama Rangga. Ok fine! Aku mimpi. Mimpi aneh tapi manis. Hell yah! Finally, i miss you but i hate you so bad Rangga. Dan apa kabarmu? Batinku.
*seminggu kemudian*
…. i guess that i dont need the though, now you are just somebody that i used to know….
Nada dering smartphone membangunkanku saat aku akan tertidur pulas.
0274816xx×
Kode Jogja? Siapa? Aku membutuhkan sedikit waktu untuk menerka siapa pemilik nomor ini. Rangga? Kabar terakhir yang aku dapat 3 tahun lalu, dia pindah dan membuka usaha di Jogja. Setelah itu, aku buta tentangnya. Dengan penuh rasa penasaran, aku memencet “answer”.
“Hallo dengan Meyra di sini.”
“Hallo Mey, apa kabar?”
Ini lebih dari perasaan yang aku alami di mimpi seminggu lalu. Suaranya meningkatkan detak jantungku 3x lipat. Iya, ini suara Rangga.
“Baik, maaf ini dengan siapa?” Aku perlu berdrama, pikirku.
“Aku Rangga, masih ingat?” Jawabnya sopan.
“Pak Rangga? Kok suaranya beda? Ada apa malem-malem nelpon? Proposal yang bapak minta kemaren sudah saya kirim via email Pak.” Jawabku nyerocos masih dengan drama. Pak Rangga? Sejak kapan bosku namanya Rangga? Aku merasa geli sendiri. Hahah
“STOP Mey! STOP drama.” Suara diseberang membentakku. Ok, drama gagal!. Aku diam.
“Masih nggak berubah ya, masih tetap berdrama dan bla bla bla.” Suara seberang masih ngoceh. Memaparkan semua kebiasaanku yang masih dia ingat jelas tanpa salah sedikitpun. Dan aku diam. Diam-diam aku senang.
“Iya Rangga, ada apa?” Aku bertahan dengan sikap dingin. Entah drama atau denial.
“Kita bisa ketemu? Besok aku akan ke Jakarta dan aku ingin memberikan sesuatu ke kamu langsung.”.
“Memberikan sesuatu? Undangan pernikahan?” Tembakku.
“Kira-kira semacam itu.” Jawabnya tegas. Dan aku diam. Diam-diam kecewa.
…. set me free, leave me be, i dont wanna fall another moment into your gravity ….
“Ok, di coffee bean PIM jam 5 sore. Aku tunggu, how?”
“Ok, makasi Mey.”
” sama-sama”
” dan kamu sedang apa?”
“Mau tidur, selamat malam.”
Kliik. Aku mematikan telponnya. Bukan karena kesal, tetapi lebih karena nggak mau terjebak nostalgia.
*5 pm*
Dia banyak berubah. Meskipun tatapannya masih setajam dulu. Senyumnya masih hangat dan misterius. Tetapi penampilannya semakin dewasa. Iya,5 tahun tentu mampu mengubah seseorang. Aku menyambutnya dengan tenang. Berusaha tenang lebih tepatnya.
Tidak ada basa-basi, dia langsung menyodorkan satu amplop putih. Mungkin semacam undangan pernikahan yang dibungkus lagi dengan amplop besar putih untuk menyamarkan itu sebuah undangan.
“Buka kalo kamu udah di rumah.” Ucapnya dengan tenang.
“Ok. Btw, aku turut senang, akhirnya kamu nikah. Siapa dia?” Balasku mencoba mencairkan suasana dan menguatkan hati sendiri. Meskipun sebenernya memang kuat. Tapi melihat Rangga tepat di depan mata, aku tetap seperti terbawa gravitasinya. Hampir terjatuh lagi.
“Namanya ada di dalam, lihat sendiri aja,” jawabnya dengan senyum yang -ok, tetap menawan.
Aku menghamburkan pandangan ke objek apapun selain ke dia. Karena, well, my heart is jumping! Hell yah! Sedang dia, tetap tenang menatapku tanpa sepatah katapun.
“Ok, time to go home!” Aku menyerah. Lebih baik pulang saja.
“Ok, hati-hati di jalan Mey.” Balasnya agak kaget.
“You too.” Aku jabat tangannya sesingkat yang aku mampu dan segera beranjak.
Aku bukan Cinta, yang berharap akan dikejar Rangga. Aku terus berjalan tanpa ada sedikitpun keingin berbalik. Sudahlah!
Perlahan aku buka amplot putih besar. Isinya, sebuah amplop sedang berwarna biru muda. Tidak bermotif, tidak bernama dan tidak seperti undangan pernikahan. Aku buka pelan-pelan, dan aku terdiam, sebuah surat dengan tulisan tangan Rangga.
Mey,
Aku masih sama, masih nggak bisa berbasa-basi. 5 tahun yang tanpamu, aku seperti kehilangan rumahku. Aku nggak peduli, gimana bahagianya kamu tanpaku atau sebuta apa aku, tentangmu kini, tapi “would you marry me?”
Kalo iya, cukup missed call nomor handphone ku.
Kalo nggak, please text me and say “no”.
Rangga.
Oh my god. Aku terdiam beberapa menit. Proposal pernikahan. Duniaku terhenti. Dan Tuhan, apa ini? Takdir kah? Jodoh kah? Aku bertahan dengan diriku sendiri, tanpanya. Dan sekarang, dia kembali lagi. Ada kecemburuan menyusup hatiku, bagaimana hidupnya selama 5 tahun tanpaku? Dengan siapa? Bahagia kah? Ah, sudah, pertanyaan ini sungguh tidak membutuhkan jawaban. At the end, “aku dan kamu” lah yang menjadi “kita”. Mimpiku seminggu lalu, menjadi nyata.
Aku menekan tombol di handphone, dan pada nada tunggu pertama, aku menutup telponnya. Missed called. Babak baru hidupku dimulai.
It doesnt matter, turn back or go a head. The point of our life is find “own home”. My home is you.
…. something always brings me back to you, it never takes to long …
5 bulan kemudian, kami menikah :)))
