my word is my world

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
  • Submit

Gravity

….. Something always brings me back to you. It never takes to long ….

Lagu ini, seperti menyentilku. Selalu ada saja yang mampu membuatku kembali menujumu. Sebenci apapun aku. Semenyebalkan apapun kamu. Setelah 5 tahun ini kita terpisah jarak terjauh. -keacuhan-. Terhempas oleh luka dan kekecewaan masing-masing dan kemudian kita besarkan dengan kebencian. Begitu terus, bertahun-tahun, tanpa konfirmasi, tanpa kabar atau sebatas “hai, apa kabar?”.

Dan sekarang, kita bertemu lagi, tanpa kesengajaan. Ah sayangnya, senyummu saja mampu meruntuhkan kebencianku. Dan aku hanya menemukan setumpuk besar kerinduan. Iya, ini aku akui hanya untuk diriku sendiri. Enam puluh menit lalu, di kursi biru, tepat di pojok kanan coffee shop yang tidak begitu ramai pengunjung ini, aku dibuat hampir pingsan oleh sapaanmu tepat di depan mataku. Rangga!

Dengan sikap yang agak kikuk bercampur kaget, aku balas menyapamu. Di meja kecil ini, kita seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu. Menukar kabar, berbagi cerita dan bercanda seru. Seakan lupa, dulu kita pernah begitu saling membenci setelah mencintai dengan jenuhnya.
“Jadi, kapan nikah? ” serta merta dia bertanya. Mengubah suasana hangat yang menyelimuti. Menikah, artinya akan menghabiskan sisa hidup hanya dengan satu pasangan. Sedang pasangan? Ah, dimana pasanganku. Batinku sambil memikirkan jawaban sediplomatis mungkin.
“Kenapa ga dijawab Mey? Malah senyum-senyum!” Aku membaca nada khawatir dari kalimatnya. Ok, aku semakin tertawa.
“belum tau. Semoga bisa secepatnya.” Jawabku datar.
“Dengan siapa?”
“Dengon jodohku dong!” Aku balas dengan gurauan yang paling masuk akal. “Oooh” balasnya semakin datar.
Aku senang, melihat ekspresinya ini. Oh, bukan senang, lebih kepada aku rindu.
“Dan kamu kapan?” Giliran aku yang penasaran.
“Ya kalo kamu udah siap!” Jwabnya santai tapi dengan nada tegas dan tatapan meyakinkan.

Ok, gelasku berhenti di tengah. Di tengah-tengah antara meja dan mulutku. ketika aku akan menyusup hot chocolate. Semua gerakan motorikku terhenti. Atau mungkin segala sistem sarafku ikutan terhenti. Sepersekian detik jantungku menghasilkan suara “deg” yang cukup keras, kemudian diikuti dengan desiran darah yang bergerak lebih cepat dari biasanya. Hasilnya, jantungku bekerja semakin cepat. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantung ku sendiri “degdegdegdegdeg” kira-kira seperti itu. Mataku? Mungkin tidak berkedip sepersekian menit. Atau mungkin sedang melotot? Atau menyipit atau menangis atau apalah, sungguh aku tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresiku saat ini. Aku pasrah saja. Pasrah pada kebencian dan kekecewaanku bertahun-tahun ini, pasrah pada kerinduanku yang mengikuti teori gunung es, pasrah pada kebahagiaan yang sungguh tidak bisa aku tutupi dan pasrah pada perasaanku sendiri. Aku masih mencintainya. Dia tersenyum sambil melihat tingkahku yang masih pada posisi “shock”. Aku, harus gimana? Batinku.

Kriiiiiing kriiing kriiing ………..
“Huaaaap” aku bangun terkaget dengan perasaan senang yang luar biasa. Jam 8 am dan aku menyapu pandangan ke sekeliling. Kamar 4x6 m yang super duper berantakan, suara weker dan aku masih di tempat tidur dengan headset yang menempel di telinga melantunkan lagu “gravity”. Tidak di coffee shop dan tidak bersama Rangga. Ok fine! Aku mimpi. Mimpi aneh tapi manis. Hell yah! Finally, i miss you but i hate you so bad Rangga. Dan apa kabarmu? Batinku.

*seminggu kemudian*
…. i guess that i dont need the though, now you are just somebody that i used to know….
Nada dering smartphone membangunkanku saat aku akan tertidur pulas.
0274816xx×
Kode Jogja? Siapa? Aku membutuhkan sedikit waktu untuk menerka siapa pemilik nomor ini. Rangga? Kabar terakhir yang aku dapat 3 tahun lalu, dia pindah dan membuka usaha di Jogja. Setelah itu, aku buta tentangnya. Dengan penuh rasa penasaran, aku memencet “answer”.
“Hallo dengan Meyra di sini.”
“Hallo Mey, apa kabar?”
Ini lebih dari perasaan yang aku alami di mimpi seminggu lalu. Suaranya meningkatkan detak jantungku 3x lipat. Iya, ini suara Rangga.
“Baik, maaf ini dengan siapa?” Aku perlu berdrama, pikirku.
“Aku Rangga, masih ingat?” Jawabnya sopan.
“Pak Rangga? Kok suaranya beda? Ada apa malem-malem nelpon? Proposal yang bapak minta kemaren sudah saya kirim via email Pak.” Jawabku nyerocos masih dengan drama. Pak Rangga? Sejak kapan bosku namanya Rangga? Aku merasa geli sendiri. Hahah
“STOP Mey! STOP drama.” Suara diseberang membentakku. Ok, drama gagal!. Aku diam.
“Masih nggak berubah ya, masih tetap berdrama dan bla bla bla.” Suara seberang masih ngoceh. Memaparkan semua kebiasaanku yang masih dia ingat jelas tanpa salah sedikitpun. Dan aku diam. Diam-diam aku senang.
“Iya Rangga, ada apa?” Aku bertahan dengan sikap dingin. Entah drama atau denial.
“Kita bisa ketemu? Besok aku akan ke Jakarta dan aku ingin memberikan sesuatu ke kamu langsung.”.
“Memberikan sesuatu? Undangan pernikahan?” Tembakku.
“Kira-kira semacam itu.” Jawabnya tegas. Dan aku diam. Diam-diam kecewa.

…. set me free, leave me be, i dont wanna fall another moment into your gravity ….

“Ok, di coffee bean PIM jam 5 sore. Aku tunggu, how?”
“Ok, makasi Mey.”
” sama-sama”
” dan kamu sedang apa?”
“Mau tidur, selamat malam.”
Kliik. Aku mematikan telponnya. Bukan karena kesal, tetapi lebih karena nggak mau terjebak nostalgia.

*5 pm*
Dia banyak berubah. Meskipun tatapannya masih setajam dulu. Senyumnya masih hangat dan misterius. Tetapi penampilannya semakin dewasa. Iya,5 tahun tentu mampu mengubah seseorang. Aku menyambutnya dengan tenang. Berusaha tenang lebih tepatnya.
Tidak ada basa-basi, dia langsung menyodorkan satu amplop putih. Mungkin semacam undangan pernikahan yang dibungkus lagi dengan amplop besar putih untuk menyamarkan itu sebuah undangan.
“Buka kalo kamu udah di rumah.” Ucapnya dengan tenang.
“Ok. Btw, aku turut senang, akhirnya kamu nikah. Siapa dia?” Balasku mencoba mencairkan suasana dan menguatkan hati sendiri. Meskipun sebenernya memang kuat. Tapi melihat Rangga tepat di depan mata, aku tetap seperti terbawa gravitasinya. Hampir terjatuh lagi.
“Namanya ada di dalam, lihat sendiri aja,” jawabnya dengan senyum yang -ok, tetap menawan.
Aku menghamburkan pandangan ke objek apapun selain ke dia. Karena, well, my heart is jumping! Hell yah! Sedang dia, tetap tenang menatapku tanpa sepatah katapun.
“Ok, time to go home!” Aku menyerah. Lebih baik pulang saja.
“Ok, hati-hati di jalan Mey.” Balasnya agak kaget.
“You too.” Aku jabat tangannya sesingkat yang aku mampu dan segera beranjak.
Aku bukan Cinta, yang berharap akan dikejar Rangga. Aku terus berjalan tanpa ada sedikitpun keingin berbalik. Sudahlah!

Perlahan aku buka amplot putih besar. Isinya, sebuah amplop sedang berwarna biru muda. Tidak bermotif, tidak bernama dan tidak seperti undangan pernikahan. Aku buka pelan-pelan, dan aku terdiam, sebuah surat dengan tulisan tangan Rangga.

Mey,
Aku masih sama, masih nggak bisa berbasa-basi. 5 tahun yang tanpamu, aku seperti kehilangan rumahku. Aku nggak peduli, gimana bahagianya kamu tanpaku atau sebuta apa aku, tentangmu kini, tapi “would you marry me?”
Kalo iya, cukup missed call nomor handphone ku.
Kalo nggak, please text me and say “no”.

Rangga.

Oh my god. Aku terdiam beberapa menit. Proposal pernikahan. Duniaku terhenti. Dan Tuhan, apa ini? Takdir kah? Jodoh kah? Aku bertahan dengan diriku sendiri, tanpanya. Dan sekarang, dia kembali lagi. Ada kecemburuan menyusup hatiku, bagaimana hidupnya selama 5 tahun tanpaku? Dengan siapa? Bahagia kah? Ah, sudah, pertanyaan ini sungguh tidak membutuhkan jawaban. At the end, “aku dan kamu” lah yang menjadi “kita”. Mimpiku seminggu lalu, menjadi nyata.
Aku menekan tombol di handphone, dan pada nada tunggu pertama, aku menutup telponnya. Missed called. Babak baru hidupku dimulai.

It doesnt matter, turn back or go a head. The point of our life is find “own home”. My home is you.

…. something always brings me back to you, it never takes to long …

5 bulan kemudian, kami menikah :)))

    • #cerpen
    • #fiktif
    • #love
    • #turnback
  • 3 days ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Kumpulan Catatan Rasa: Bermain Layang-Layang

poeticonnie:

Perasaan jatuh cinta itu seperti menerbangkan sebuah layang-layang. Bisa saja, itu bukan layang-layang tercantik di angkasa biru, atau bukan juga layang-layang yang termahal. Tapi layang-layang itu mampu menerbangkan hati kita ke langit tertinggi, dan membuat perasaan kita berlari-lari…

♥

  • 4 days ago > poeticonnie
  • 16
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Intermezo

  • A: lo anak terakhir ya?
  • B: yap, benar! Dan yang pasti, bukan anak twitter. Haha
  • A: gw tebak lagi ya. Tapi kalo bener gw minta sesuatu dari lo!
  • B: sesuatu? Syahrini ya? Boleh lah. Tebak gih.
  • A: tapi, jangan dipotong sampe gue bilang selesai, oke?
  • B: sip
  • A: lo orangnya kalo punya masalah ngga terlalu banyak cerita ke orang, lebih dominan disimpen sendiri. Bukan orang pendendam. Mampu menutupi perasaan walau lagi kesal, kalo udah suka sama satu cowo susah buat ngelupain. Ada keinginan buat nulis tapi ngga pernah selesai atau berhenti di tengah jalan. Gampang masuk ke semua orang walau orang baru (itu pasti). Lo pengen jadi wanita kuat tapi terkadang hati ngga sanggup. Lo termasuk wanita yang punya tujuan yang tertata rapih. Dan sekarang lo lagi ada masalah dan kebanyakan orang ngga tau. Demikian dan selesai. Hahahah
  • B: JANGAN BILANG LO PERAMAL! Maksud gue, lo bisa baca mimik muka, garis tangan?
  • A: hahahha, jawab dulu baru gw kasi tau.
  • B: mostly bener, meskipun ada bagian-bagian yang nggak gue banget.
  • A: hahahahha
  • Then, hilang. Itu obrolan via -bbm-pertama dan terakhir.
  • 1 week ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Kemarin malam, gue dibuat speechless oleh seseorang, sebut saja teman yang gue kenal dari teman. Gue sama dia bahkan belum pernah ketemu. Cuma ngeliat 2 foto gue yang bisa saja sangat menipu (hahaha). Tetapi, sayangnya dia seperti berhasil membaca karakter gue, bahkan mungkin lebih benar dari yang gue yakini selama ini. Bukannya membenarkan, malah buat gue mikir ulang. Emang iya yah? Begitu ya? Masa sih? Dan entahlah.
Mungkin dia titisan cucunya eyang subur. Hahaha, bego!

Tapi ya gitu, kadang ada orang-orang yang memang diberi kemampuan melihat lebih dari orang kebanyakan. Ato hal lain yang mungkin: durasi itu bukan jaminan lo bisa kenal orang sampe ngerti karakternya. Bukan berarti durasi ga penting ato ga ngaruh. Ya tergantung orientasinya apa sih, kenal deket dan lama tapi ga bener-bener mengamati, mengerti, berempati, pake hati, kadang hasilnya nihil. Then lo akan sadar, lo ga bener-bener kenal seperti apa dia. Jadinya malah susah menimpali dan harus bersikap gimana. Karena lo ga bener-bener tau.

Taraaaaaaa….. mulai ngelantur! Hahaha!
Jelas penjelasan panjang lebar ngelantur gue ini, ga sedang membicarkan proses dan hasil dari kejadian yang disebut: persahabatan.

Lalu apa?
Silahkan bebas berasumsi :))

  • 1 week ago
  • 2
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Selamat Ulang Tahun

Hai lelaki kebanggaan-kesayanganku, selamat ulang tahun,
Teruslah berbahagia, aku di sini, tidak akan pernah lupa untuk berdoa, merindu dan mencintaimu.
Aku dan kamu, adalah salah satu bukti, cinta kita tidak terhalang ruang dan waktu.
Dan hei, betapa aku merindumu Ayah. Sungguh sangat :)
Izinkan aku kalah, untuk kali ini,
Karena dalam mikro liter air mataku, ada sejuta doa yang membumbung tinggi menujumu.
Semoga Tuhan mengijabah, aamiin.
Aku di sini, terus mencintaimu ♥

  • 4 weeks ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Masalah demi masalah tercipta bagai anak tangga demi anak tangga. Aku perlu mereka untuk melangkah ke sesuatu yang lebih tinggi.
(via karizunique)
  • 1 month ago > karizunique
  • 41
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
nyatanya, tak semua yang pernah merasa kehilangan lantas menjadi orang yang pintar menjaga.
me (via abcdefghindrijklmn)
  • 1 month ago > abcdefghindrijklmn
  • 10
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

T E R I M A K A S I H

Terima kasih saya kepada semua teman-teman yang dalam diam, dalam segala kebebasan yang saya punya, mereka tetap berharap yang terbaik untuk saya.
Tidak perlu muluk nama saya dilafalkan dalam doa, membatin atau menegur saya yang agak susah diatur ini, dengan niat baik, itu tetaplah sebuah doa.
Mereka benar, saya memang perlu melaluinya dulu, hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang jauh sudah mereka bulatkan sebelum hari ini ada.
Ah sungguh magis, saat harapan mereka berujung pada kenyataan yang di luar dugaan saya, hal yang terlihat tidak menyenangkan ini, mampu saya balas dengan ucapan penuh syukur “alhamdulillah”.
Dan ini lucu, saya yang keras kepala, yang dulu membuta-tulikan mata dan telinga saya, kini datang membawa sebentuk jawaban pembenaran atas semua masukan mereka dulu.

Dan kepada mas saya,
Hallo, saya sadar, segala ketidaknyamanan kata yang dulu sering dilemparkan tepat kepada saya, tidak lebih karena sebuah rasa peduli yang begitu mahal. Senang rasanya mampu membuat beliau berucap syukur atas apa yang telah saya capai. Saya memang butuh waktu. Saya memang perlu berjalan dan melaluinya dulu. Saya memang perlu membuktikannya dulu, bukan begitu?
Terima kasih *sungkem dari jauh*

Saya merasa sangat senang sekali berada pada titik ini.
Hei, tidak ada alasan untuk membentuk garis bibir menurun atau tidak simetris, ketika doa-doa yang saya panjatkan setiap hari, terkabul satu per satu, dan atau ketika doa orang tua dan orang-orang yang menyayangi saya diijabah oleh-Nya, melalui banyak cara. Saya tau, ini tidak terlambat atau terlalu cepat. Ini sungguh tepat waktu.

Apa yang saya sia-siakan? Sungguh tidak ada. Semua adalah anugerah dan pelajaran. Dan ini keren, beberapa hari belakangan ini, saya diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang luar biasa, minimal itu menurut saya. Memaksa saya untuk memantaskan diri. Hei, terima kasih doanya. Saya sungguh merasa beruntung :)
Ah, terlalu abstrak apa yang saya bicarakan kali ini.
Tapi sudahlah, terima ucapan terima kasih terdalam saya :’)

  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

R E J E K I

  • A: rejeki itu bukan cuma materi aja.
  • B: yep, i think so :)
  • A: dan Tuhan sedang memberikan banyak rejeki ke kamu.
  • B: oh, iya, tapiii aku kan hmmm...
  • A: liat, di mana bisa kamu beli kebahagiaan n ketenangan semacam ini?itu rejeki bukan?
  • B: IYA :')
  • A: dan doa kamu dikabulkan. Kamu didekatkan kepada hal-hal yang baik. Belajarlah! Tempa hatimu, pantaskan dirimu.
  • B: subhanallah :D
  • A: hei, ini bukan candaan!
  • B: iyaaa, siap! :D
  • A: beyond expectation, right! You get more happiness even shit happen.
  • B: buseet dah, lanjot terus! Iyaaaaaa, alhamdulillah. No regret :))
  • A: =)
  • B: btw, i adore you, huh!
  • A: terima kasih :D
  • B: preet!
  • A: lho, rejeki kan?
  • B: yohaaa, case closed!
  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Aku menerka-nerka, pelajaran apa lagi yang Tuhan akan berikan dari luka ini?

Kata mereka, agar kau tidak ditinggalkan, maka
cintailah dengan tulus,
Jadilah pasangan setia,
Terimalah apa adanya,
Mengertilah dengan empati,
Hargai dengan hati,
Ikhlaslah tanpa pamrih,
Dan berjuanglah sekuatmu.

Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain
Dalam rencana-Nya yang tidak bisa aku terka,
Hatiku dililit-remuk-an lagi dengan luka baru tepat di atas bekas luka kemarin.
Aku membeku, bukan lagi sakit yang kurasakan,
Bukan sedih atau perih,
Lebih dari itu, aku kecewa kepada semua hal yang aku yakini.

Dan Tuhan, apa lagi yang kurang dari caraku?
Kurang mencintai-Mu kah? Atau kurang mencinta diri sendiri? Di saat aku terlalu mencintai dia?
Jika itu benar, aku akui, aku salah.
Maka, demi semua luka yang menyayat kuat di hatiku,
Semoga itu mampu memuliakanku,
Menjauhkan dari benci,
Menghindari dari dendam,
Dan melapangkan hati atas apapun yang pernah aku beri.
Aamiin.

  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Kejujuran bisa dikatakan sebagai salah satu tanda seberapa besar kau menghargai dirimu dan orang-orang di sekitarmu.
Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah)
  • 1 month ago > karenapuisiituindah
  • 17
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Beruntunglah, jika hatimu dihadapkan pada pilihan memilih bertahan atau menyerah karena suatu hal; perbedaan pendapat, perjuangan, orang ketiga, atau hal lain yang melibatkan sesama. Bukan karena pilihan memilih jalan menuju atau menjauhi Tuhan. Itu ada, dan tidak harus melibatkan diri, aku sudah bisa merasakan perihnya.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin Tuhan mengirimkan orang yang begitu baik, bertanggung jawab, sangat manis, perhatian luar biasa, tetapi cara kita menyebut Tuhan, berbeda? Itu mungkin saja. Bisa jadi, karena Tuhan menguji kecintaan kita kepada-Nya. Dan bagaimana mungkin kita punya banyak alasan untuk tetap memperjuangkan seseorang yang tidak pernah menghadapkan sujud kepada-Nya? Mungkin saja, karena Tuhan ingin kita memilih dan memilah dengan bijak. Dengan otak dan juga hati. Bagaimana mungkin kita ragu jika dia pun rela menyebut Tuhan dengan nama yang sama demi kita? Mungkin saja, agar kita sadar: Tuhannya saja bisa dikhianati. Apalagi kita yang hanya salah satu dari pilihannya saat ini.
Perih memang, tetapi selama yang kita kejar adalah ridho-Nya, kita tidak akan sendirian. Janji Tuhan itu mutlak; wanita baik untuk lelaki baik dan sebaliknya.
Cobaan-Nya, mungkin ujian agar kita semakin dimuliakan.
Jika kita dihadapkan pada pilihan demikian, jawabannya mutlak, mendekatlah kepada-Nya.
Sedang perih dan sedih adalah bukti bahwa kita memang menggunakan hati.
Sudah, jangan brsedih :)

  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Semua yang untukmu, tidak pernah mengenal “pura-pura”. Lihatlah pakai hati dan bukan asumsi.
  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Bukan tugasku lagi meyakinkanmu, bahwa dulu kaulah yang paling untukku. Bukan lagi setelah sesaat kau beranjak pergi.
  • 1 month ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Sementara

Lagu yang dipersembahakan untuk dirimu. Kamu dan hatimu, berdua saja. Sukaaa :’)

Sementara by Float

Sementara…
teduhlah, hatiku, Tidak lagi jauh, Belum saatnya kau jatuh
Sementara…
ingat lagi mimpi, Juga janji-janji, Jangan kau ingkari lagi
Percayalah, hati
Lebih dari ini, pernah kita lalui, Jangan henti disini
Sementara…
lupakanlah rindu, Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara…
akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata, Untuk asa kita berdua
Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui, Takkan lagi kita mesti jauh melangkah, Nikmatilah lara 
Untuk sementara saja

  • 1 month ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 40
← Newer • Older →

About

i wanna go "home"
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Submit
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union